ILMU SOSIAL DASAR SEBAGAI KOMPONEN MATA KULIAH DASAR UMUM
Menghadapi masalah-masalah dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi, demikian pula untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan Negara, maka diselenggarakan program-program pendidikan umum, tujuan pendidikan umum di perguruan tinggi adalah:
- Sebagai usaha membantu perkembangan kepribadian mahasiswa agar mampu berperan sebagai anggota masyarakat dan bangsa serta agama.
- Untuk menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap masalah-masalah dan kenyataan-kenyataan sosial yang timbul di dalam masyarakat Indonesia.
- Memberikan pengetahuan dasar kepada mahasiswa agar mereka mampu berpikir secara interdisipliner, dan mampu memahami pikiran para ahli berbagai ilmu pengetahuan, sehingga dengan demikian memudahkan mereka berkomunikasi
- Pendidikan umum yang diselenggarakan oleh universitas dan initusi kemudian dikenal dengan mata kuliah dasar umum atau MKDU yang terdiri dari beberapa mata kuliah, yaitu :1) Agama, 2) Kewarganegaraan, 3) Pancasila, 4) Kewiraan, 5) IBD, 6) dan ISD.
- Ilmu sosial dasar adalah satu mata kuliah umum yang merupakan matakuliah wajib yang diberikan di perguruan tinggi negeri maupun swasta, tujuan diberikannya mata kuliah ini adalah semata-mata sebagai salah satu usaha yang diharapkan dapat memberikan bekaL kepada mahasiswa untuk dapat peduli terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan.
Secara khusus mata kuliah dasar umum bertujuan untuk menghasilkan warga Negara sarjana yang :
- Berjiwa pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengamalan nilai-nilai pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi.
- Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai ajaran agamanya.
- Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral didalam menyikapi permasalahan kehidupan baik sosial, politik mautpun pertahanan keamanan.
- Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan serta mwningkatkan kualitasnya, maupun lingkungan alamiahnya dan secara bersama-sama berperan serta didalam pelestariannya.
LATAR BELAKANG, PENGERTIAN DAN TUJUAN ISD
Latar belakang diberikannya ISD adalah banyaknya kritik yang ditujukan pada sistem pendidikan kita oleh sejumlah para cendekiawan, terutama sarjana pendidikan, sosial dan kebudayaan, mereka menganggap sistem pendidikan kita berbau colonial, dan masih merupakan warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda, yaitu kelanjutan arti politik balas budi yang dianjurkan oleh Conrad Theodhore Van Deventer, sistem ini bertujuan menghasilkan tenaga-tenaga terampil untuk menjadi “tukang-tukang” yang mengisi birokrasi mereka di bidang administrasi, perdagangan, teknik dan keahlian lain, dengan tujuan eksploitasi kekayaan Negara.
Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas.
- Kemampuan akadsemis; adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai perlatan analisis, maupun berpikir logis.
- Kemampuan professional; adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan, dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
- Kemampuan personal; adalah kemampuan kepribadian, dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang diahadapi ileh masyarakat Indonesia.
- Berbagai kenyataan yang bersama-sama merupakan masalah sosial yang dapat ditanggapi dengan pendekatan gabungan ( antar bidang ).
- Adanya keanekaragaman golongan dan kesatuan sosial lain dalam masyarakat, yang masing-masing mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah laku tersendiri.
Sebagai salah satu mata kuliah umum, ISD bertujuan membantu kepekaan wawasan pemikiran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas.Ilmu pengetahuan dikelompokkan dalam 3 kelompok besar yaitu:
- Ilmu-ilmu alamiah ( natural science ), ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta.
- Ilmu-ilmu sosial ( social science ), ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia.
- Pengetahuan budaya ( the humanities ), bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi.
B. PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Tujuan instruksional umum:
- Mahasiswa dapat memahami dan menghayati berbagai kenyataan yang diwujudkan oleh pertumbuhan penduduk yang cepat mengkaji pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perkembangan sosial, mengkaji hubungan antar masalah penduduk dengan perkembangan kebudayaan.
Tujuan Instruksional khusus:
- Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian penduduk.
- Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian masyarakat
- Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian kebudayaan
- Mahasiswa dapat menjelaskan keterkaitan antara penduduk, masyarakat dan kebudayaan
- Mahasiswa dapat menjelaskan tentang permasalahan penduduk
- Mahasiswa dapat menuliskan rumusan angka kelahiran
- Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian angka kelahiran
- Mahasiswa dapat menjelaskan dinamika penduduk
- Mahasiswa dapat menyebutkan tiga piramida penduduk
- Mahasiswa dapat menjelaskan pyramid penduduk muda, penduduk tua dan penduduk stasioner
- Mahasiswa dapat menjelaskan tentang persebaran penduduk
- Mahasiswa dapat pengertian rasio ketergantungan
- Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian kebudayaan
- Mahasiswa dapat menjelaskan 7 unsur kebudayaan
- Mahasiswa dapat menjelaskan wujud kebudayaan
- Dapat menerangkan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan
- Mahasiswa dapat menjelaskan 4 macam norma menurut kekuatan pengikatnya
- Mahasiswa dapat memberikan contoh norma-norma yang ada di masyarakat
- Mahasiswa dapat menjelaskan 8 prnata sosial yang ada di masyarakat
PENDAHULUAN
Penduduk masyarakat dan kebudayaan adalah konsep-konsep yang pertautannya atu sama lain sangat berdekatan, demikian pula hubungan antara masyarakat dan kebudayaan, ini merupakan dwi tunggal, hubungan dua yang satu dalam arti bahwa kebudayaan merupakan hasil dari suatu masyarakat, kebudayaan hanya akan bias lahir, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tetapi juga sebaliknya tidak ada suatu masyarakat yang tidak didukung oleh kebudayaan.
PENDUDUK DAN PERMASALAHANNYA
Orang yang pertama mengemukakan teori mengenai penduduk ialah “Thomas Robert Malthus”, dalam edisi pertamanya “Essay Population” tahun 1798, Malthus mengemukakan adanya persoalan pokok, yaitu bahan makanan adalah penting untuk kehidupan manusia dan nafsu manusia tidak dapat ditahan, bertitik tolak dari hal itu teori Malthus yang sangat terkenal yaitu bahwa berlipat gandanya penduduk itu menurut deret ukur, sedangkan berlipat gandanya bahan makanan menurut deret hitung, sehingga pada suatu saat akan timbul persoalan-persoalan yang berhubungan dengan penduduk.
DINAMIKA PENDUDUK
Dinamika penduduk menunjukan adanya factor perubahan dalam hal jumlah penduduk yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan penduduk, penduduk bertambah tidak lain karena adanya unsure lahir, mati, dating dan pergi dari penduduk itu sendiri, karena keempat unsure tersebut maka pertambahan penduduk dapat dihitung dengan cara : pertambahan penduduk = ( lahir-mati ) + ( dating-pergi ), pertambahan penduduk alami karena diperoleh dari selsish kelahiran dan kematian, unsure penentu dalam pertambahan penduduk adalah tingkat fertilitas dan mortalitas.
KOMPOSISI PENDUDUK
Sensus penduduk yang diadakan 10 tahun sekali oleh pemerintah kita, bukan hanya menghitung jumlah penduduk saja tetapi juga mendata tentang umur penduduk, jenis kelamin penduduk, tingkat pendidikan penduduk, jenis mata pencaharian penduduk dan sebagainya,
Dengan mengetahui komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, dapat disusun/dibuat apa yang disebut piramida penduduk, yaitu grafik susunan penduduk menurut umur dan jenis kelamin pada saat tertentu dalam bentuk pyramid.
Berdasarkan komposisinya piramida penduduk dibedakan atas:
- Penduduk muda yaitu penduduk dalam pertumbuhan, alasannya lebih besar dan ujungnya runcing jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian.
- Bentuk piramida stasioner, disini keadaan penduduk usia muda, usia dewasa dan lanjut usia seimbang, pyramid penduduk stasioner ini merupakan idealnya penduduk suatu Negara.
- Piramida penduduk tua, yaitu piramida penduduk yang menggambarkan penduduk dalam kemunduran, pyramid ini menunjukan bahwa penduduk usia muda jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan penduduk dewasa.
PERSEBARAN PENDUDUK
Kecenderungan manusia untuk memilih daerah yang subur untuk tempat tinggalnya, terjadi sejak pola hidup masih sangat sederhana, itulah maka sejak masa purba daerah sangat subur selalu menjadi perebutan manusia, sehingga tidak salah lagi bahwa daerah yang subur ini kemungkinan besar terjadi kepadatan penduduk, sudah barang tentu hal semacam ini terjadi di daerah/Negara yang pola hidupnya masih bertani.
PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya daripada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya, pengertian kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli, salah satunya dikemukakan olwh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya , rasa dan cipta masyarakat.
Atas dasar itulah para ahli mengemukakan adanya unsur kebudayaan yang umumnya diperinci menjadi 7 unsur yaitu:
- Unsur religi
- Sistem kemasyarakatan
- Sistem peralatan
- Sistem mata pencaharian hidup
- Sistem bahasa
- Sistem pengetahuan
- Seni
KEBUDAYAAN HINDU, BUDHA DAN ISLAM
Kebudayaan Hindu dan Budha
Pada abad ke 3 dan 4 agama hindu masuk ke Indonesia khusunya pulau jawa, perpaduan atau akulturasi antara kebudayaan setempat dengan kebudayaan hindu yang berasal dari india itu berlangsung luwes dan mantap, sekitar abad ke 5 ajaran budha atau budhisme masuk ke Indonesia khususnya pulau jaw agama/ajaran budha dapat dikatakan berpandangan lebih maju daripada hinduisme, sebab budhisme tidak menghendaki kasta-kasta masyarakat.
Kebudayaan Islam
Pada abad ke 15 dan 16 agama islam telah dikembangkan di Indonesia, oleh para pemuka-pemuka islam yang disebut wali sanga, titik sentral penyebaran agama islam pada abad itu berada di pulau jawa, sebenarnya agama islam masuk ke indoensia khususnya ke pulau jawa jauh sebelum abad ke 15, suatu bukti bahwa awal abad ke 11 sudah ada wanita islam yang meninggal dan dimakamkan di kota gresik, masuknya agama islam ke Indonesia, teristimewa ke pulau jawa berlangsung dalam suasana damai, hal ini disebabkan karena islam dimasukkan ke Indonesia tidak dengan dipaksa, melainkan dengan cara baik-baik, disamping itu disebabkan sikap toleransi yang dimiliki bangsa kita.
Kebudayaan Barat
Unsur kebudayaan yang juga memberi warna terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah kebudayaan barat, awal kebudayaan barat masuk ke Negara tercinta ini ketika kaum kolonialisme/penjajah menggedor masuk ke Indonesia, terutama bangsa belanda, mulai dari penguasaan dan kekuasaan perusahaan dagang belanda (VOC).
KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
Berbagai penelitian antropologi budaya menunjukan, bahwa terdapat korelasi diantara corak-corak kebudayaan dengan corak-corak kepribadian anggota-anggota masyarakat, secara garis besar, opini umum juga menyatakan bahwa kebudayaan suatu bangsa adalah cermin dari kepribadian bangsa yang bersangkutan.
PRANATA SOSIAL DAN INSTITUSIONALISASI
Untuk menjaga agar hubungan antar anggota masyarakat dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka didalam masyarakat dibedakan adanya cara atau ”usage” kelaziman (kebiasaan) atau “folkways” tata kelakuan atau “mores”, dan adat istiadat “costom”,
Dr. Koentjaraningrat membagi lembaga sosial/pranata-pranata kemasyarakatan menjadi 8 macam yaitu:
- Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan atau domestic institutions.
- Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup ( economic institutions )
- Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia ( scientific institution )
- Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan ( educational institutions )
- Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan ilmiah, menyatakan rasa keindahan dan rekreasi ( aesthetic anda recreational institutions )
- Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan tuhan atau alam gaib ( religious institutions )
- Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara ( political institutions )
- Pranata yang bertujuan mengurus kebutuhan jasmaniah manusia ( cosmetic institutions )
CONTOH-CONTOH MASALAH KEPENDUDUKAN DAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA
MASALAH KEBUDAYAAN DI INDONESIA
A. Pewarisan Kebudayaan
Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan , penerusan , pemilikan , dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan . Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan , dan selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang .
Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui enkulturasi dan sosialisasi . Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaanya . Proses Enkulturasi dimulai sejak dini , yaitu masa kanak-kanak , bermula dari lingkungan keluarga , teman teman sepermainan , dan masyarakat luas . Sosialisasi atau proses pemasyarakatan adala individu menyesuaikan diri dengan individu lain dengan masyarakat nya .
Dalam hal pewarisan budaya bisa muncul masalah antara lain, sesuai atau tidaknya budaya warisan tersebut dengan dinamika masyarakat saat sekarang , penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya tersebut, dan munculnya budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan .
Dalam suatu kasus , ditemukan generasi muda menolak budaya yang hendak diwariskan oleh generasi pendahulunya . Budaya itu dianggap tidak lagi sesuai dengan kepentingan hidup generasi tersebut , bahkan dianggap bertolak belakang dengan nilai nilai budaya baru yang diterima sekarang ini .
B. Perubahan Kebudayaan
Perubahan Kebudayaan adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat adanya ketidak sesuaian di antara unsur-unsur budaya yang saling berbeda sehingga terjadi keadaan yang fungsinya tidak serasi bagi kehidupan. Perubahan kebudayan mencakup banyak Aspek,baik bentuk,sikap perubahan,dampak perubahan,dan mekanisme yang dilaluinya. Perubahan kebudayaan di dalamnya mencakup perkembangan kebudayaan. Pembangunan dan modernisasi termasuk pula perubahan kebudayaan.
Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa memunculkan masalah, antara lain perubahan akan merugikan manusia jika perubahan itu bersifat regress (kemunduran) bukan progress (kemajuan);perubahan bisa berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui revolusi,berlangsung cepat,dan diluar kendali manusia .
C. Penyebaran Kebudayaan
Penyebaran kebudayaan atau difusi adalah proses menyebarnya unsur – unsur kebudayaan dari suatu kelompok kekelompok lain atau suatu masyarakat ke masyarakat lain. Kebudayaan kelompok masyarakat disuatu wilayah bisa menyebar kemasyarakat wilayah lain. Misalnya , kebudayaan dari masyarakat Barat (Negara – Negara Eropa) masuk danmemengaruhi kebudayaan Timur(bangsa Asia dan Afrika).Globalisasi budaya bisa dikatakan pula sebagai penyebaran suatu kebudayaan secara meluas.
Dalam hal penyebaran kebudayaan,seorang sejarawan Arnold J. Toynbee merumuskan beberapa dalil tentang radiasi budaya sebagai berikut:
- Pertama, aspek atau unsur budaya selalu masuk tidak secara keseluruhan,melainkan individual.Kebudayaan Barat yang masuk ke dunia Timur pada abad ke-19 tidak masuk secara keseluruhan.Dunia Timur tidak mengambil budaya Barat secara keseluruhan,tetapi unsur tertentu,yaitu teknologi.Teknologi merupakan unsure yang paling mudah di serap.Industrialisasi di Negara –negara Timur merupakan pengaruh dari kebudayaan Barat.
- Kedua, kekuatan menembus suatu budaya berbanding terbalik dengan nilainya. Makin tinggi dan dalam aspek budayanya, makin sulit untuk diterima. Contoh religi adalah lapis dalam dari budaya. Religi orang barat (Kristen) sulit diterima oleh orang Timur dibanding teknologinya. Alasannya, religi merupakan lapisan budaya yang paling dalam dan tinggi, sedangkan teknologi merupakan lapisan luar dari budaya.
- Ketiga, jika satu unsur masuk maka akan menarik unsur budaya lainnya. Unsur teknologi asing yang diadopsi akan membawa masuk pula nilai budaya asing melalui orang-orang asing yang berkerja di industri teknologi tersebut.
- Keempat, aspek atau unsur budaya yang di tanah asalnya tidak berbahaya, bisa menjadi berbahaya bagi masyarakat yang didatangi. Dalam hal ini, Toynbee memberikan contoh nasionalisme. Nasionalisme sebagai hasil evolusi social budaya dan menjadi sebab tumbuhnya Negara-negara nasional di Eropa abad ke-19 justru memecah belah system kenegaraan di dunia Timur, seperti kesultanan dan kekhalifahan di Timur Tengah.
Pada dasarnya, difusi merupakan bentuk kontak antaar kebudayaan. Selain difusi bentuk kebudayaan dapat pula berupa akulturasi dan asimilasi. Akulturasi berarti pertemuan antara dua kebudayaan atau lebih yang berbeda. Akulturasi merupakan kontak antarkebudayaan namun masing-masing masih menunjukkan unsur kebudayaannya. Asimilasi berarti peleburan antarkebudayaan yang bertemu. Asimilasi terjadi karena proses yang berlangsung lama dan intensif antara mereka yang berlainan latar be;akang, ras, suku, bangsa, dan kebudayaan. Pada umumnya asimilasi menghasilkan budaya baru.
D. SOLUSI MENGATASI PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN
1. Prioritas pada masalah
Penyimpangan seperti sudah benar-benar bertentangan dengan nilai-nilai, asumsi, keyakinan atau pengalaman hidup kita. Karena penyimpangan itu pasti banyak kalau dicari apalagi dicari-cari, maka sebaiknya kita perlu membuat prioritas penyelesaian penyimpangan.
Manfaatnya adalah untuk menghindari keinginan-keinginan yang ditunggangi dorongan keinginan atau mood sesaat. Terkadang, kita menginginkan situasi atau kondisi yang langsung baik dan sempurna dari seluruh segi yang sama persis seperti firman kitab suci, sama persis seperti saran konsultan, atau sama persis seperti khutbah para pakar manajemen di buku-buku. Padahal, secara resource, kita belum mampu ke sana. Kesempurnaan itu adalah upaya untuk selalu menyempurnakan kekurangan / penyimpangan.
Selain itu, memutuskan perbaikan yang dasarnya masalah, akan membuat keputusan kita lebih membumi, lebih memfokus, lebih riil sasarannya. Para motivator sering mengatakan pikiran ini akan bekerja lebih bagus kalau diberi sasaran yang lebih jelas, lebih spesifik, atau lebih terukur. Sebaliknya, ia akan "bingung" kalau disuruh memikirkan sasaran yang tidak jelas, terlalu normatif, atau terlalu abstrak.
2. Konseptualisasi
Agar kemauan kita itu menjadi pemahaman bersama, kita perlu mengkonsepkannya, menyatakannya dalam bentuk pedoman yang bisa dipahami orang lain. Beberapa organisasi memang telah memiliki rumusan tertulis dari nilai-nilai yang diinginkan untuk terwujud dalam praktek. Tetapi ini masih banyak juga yang belum memiliki.
Selain bisa menjadi instrumen pemahaman bersama, rumusan tertulis juga akan menjadi pedoman perlakuan. Ini supaya jangan sampai kita tidak care terhadap penyimpangan dan tidak care pula terhadap prestasi atau performansi kerja sebagian orang. Jangan sampai karyawan memendam kesimpulan:
Jika kita menginginkan budaya yang positif dan lingkungan kerja yang mendukung, kita pun perlu mendukung (memberi reward) orang-orang yang sudah menunjukkan dukungannya. Dan pada saat yang sama, kita pun perlu memberikan punishment kepada orang yang terbukti menunjukkan penyimpangannya. Kelemahan kita, terkadang, kita menginginkan kebaikan, tetapi kurang appreciate pada orang yang baik dan lemah ATAU ignorance (tidak peduli (acuh tak acuh) menghadapi orang yang tidak baik.
3. Membuka fasilitas dan peluang pembelajaran
Pengalaman kita bersama menunjukkan bahwa untuk membuat orang melakukan sesuatu, ini membutuhkan effort yang jauh lebih banyak dibanding dengan membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu. Yang terakhir ini cukup dengan diberi tahu melalui mulut atau tulisan. Adapun untuk yang pertama, apalagi jika yang kita inginkan menjadi budaya, pasti tidak cukup dengan identikasi masalah prioritas dan konseptualisasi keinginan.
Budaya menyimpang, perlu diluruskan melalui proses belajar yang benar agar hasilnya benar. Esensi mendasar dari prinsip pembelajaran ini adalah memperbaiki keadaan (mengubah ke arah yang lebih baik) dengan cara melakukan sesuatu (proses) berdasarkan masalah yang muncul dengan berbagai cara yang mungkin. Intinya, kita tidak melihat penyimpangan budaya yang terjadi sebagai sebuah kesimpulan akhir, melainkan sebagai sebuah proses untuk diperbaiki. Kita tidak melihat penyimpangan sebagai penyimpangan tetapi sebagai isyarat untuk melakukan perubahan dan pengembangan..
Adapun bentuk fasilitas itu bisa kita sesuaikan berdasarkan keadaan, kemampuan dan keinginan. Pokoknya, apapun fasilitas yang bisa menyentuh orang untuk terdorong memperbaiki keadaan (dirinya, orang lain, dan lingkungan), itu perlu kita buka, dari mulai yang paling mahal sampai yang paling gratis menurut ukuran kita. Ini misalnya saja, training, konseling, coaching, teaching, dialog, pertemuan rutin, pengawasan langsung, pengarahan, dan lain-lain.
Referensi by: Herimanto. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar